LAYANAN KONSELING SEBAGAI SALAH SATU STRATEGI KOREA SELATAN
DALAM MENGHADAPI PANDEMI
COVID-19
POLEMIK
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kaifiyat
Mujadalah
Dosen Pengampu : - Dr. H. Aep
Kusnawan, M.Ag.
-Yuyun
Yuningsih, S.Sos.I., M.Ag.
Oleh
Sarah Salsabila
1184010167
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2020
PENDAHULUAN
Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus
2 (SARS-Co-V-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit
karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona ini bisa menyebabkan
gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru – paru yang berat, hingga
kematian. SARS-Co-V-2 atau yang lebih dikenal dengan nama Virus Corona adalah
jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang
siapa saja, seperti lansia, orang dewasa, anak – anak, ibu hamil, dan ibu
menyusui.
Infeksi Virus Corona pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina.
Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua
negara, termasuk Indonesia hanya dalam waktu beberapa bulan. Hal tersebut
membuat beberapa negara menerapkan kebijakan lockdown dalam rangka
mencegah penyebaran Virus Corona. Di Indonesia sendiri, diberlakukan kebijakan
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.
Virus Corona bisa menyerang siapa saja. Menurut data yang dirilis
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Republik Indonesia, jumlah kasus
terkonfirmasi positif hingga 29 Juni 2020 adalah 54.010 orang, dengan jumlah
kematian 2.754 orang. Tingkat kematian akibat virus ini adalah sekitar 5,1%.
Jika dilihat dari persentase angka kematian yang dibagi menurut golongan usia,
maka lansia memiliki persentase tingkat kematian yang lebih tinggi dibanding
golongan usia lainnya.
Virus Corona ini menyerang semua negara di dunia, termasuk Korea
Selatan. Duta besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang Beom memaparkan
sejumlah strategi Korea Selatan dalam menghadapi lonjakan kasus Covid-19 tanpa
menerapkan kebijakan lockdown atau karantina menyeluruh di negara
tersebut. Dia menjelaskan bahwa upaya – upaya yang dilakukan oleh Pemerintah
Korea Selatan dapat disimpulkan dalam empat poin penting. Pertama, adalah
langkah tes yang agresif yang disebut sebagai inti dari upaya melawan Covid-19.
Guna mempercepat tes tersebut, Korea Selatan menciptakan metode yang aman,
cepat, dan nyaman, yakni melalui tes drive-through. Yakni dimana
masyarakat tak perlu turun dari kendaraan masing – masing untuk bisa di tes.
Proses dapat dilakukan di bawah sepuluh menit dengan cara yang aman juga bagi
para pekerja medis. Kedua, adalah pelacakan (tracing), upaya tracing
dilakukan dengan menggunakan jejak rekam transaksi kartu kredit, rekaman
kamera CCTV, rekan jejak aplikasi telepon genggam, hingga rekam jejak GPS mobil
dari mereka yang dikonfirmasi positif terjangkit Virus Corona. Ketiga, adalah
perawatan pasien positif Covid-19. Pasien juga dibagi ke dalam empat kategori,
yaitu ringan, sedang, berat, dan sangat berat sesuai dengan gejala yang
ditunjukkan. Keempat, adalah kesadaran dan partisipasi sipil. Transparansi
pemerintah memiliki pengaruh besar terhadap kepercayaan masyarakat.
Korea Selatan juga memberikan layanan konseling gratis kepada
masyarakat jika mengalami depresi akibat kondisi yang saat ini terjadi. Korea
selatan juga dikenal sebagai salah satu negara yang angka kasus bunuh dirinya
tinggi, jadi layanan konseling sangat di perlukan di negara tersebut. Bahkan
bukan hanya di Korea Selatan saja, layanan konseling juga diperlukan di semua
negara, karena hal ini dikhawatirkan bisa menyebabkan depresi atau stres bagi
orang yang bersangkutan.
PEMBAHASAN
(Tanggapan terhadap tulisan Ellyvon Pranita)
Oleh : Sarah Salsabila
Kompas.com
Korea Selatan termasuk negara yang memiliki strategi yang baik
dalam penanganan pandemi Covid-19. Sejak awal, pemerintahnya sudah mengambil
strategi komunikasi dua arah. Yang pertama adalah menyebutkan bahwa virus
corona ini adalah penyakit yang berbahaya. Yang kedua adalah pemerintah
menenangkan masyarakatnya dengan optimis bisa mencegah penyakit ini agar tidak
membahayakan bagi warganya. Hal ini berbeda dengan negara kita yaitu negara
Indonesia. Pemerintah Indonesia menganggap virus corona tidak perlu dikhawatirkan
dan sama saja seperti virus penyebab flu pada umunya, hal itu dilakukan agar
membuat masyarakat tenang. Namun, apa yang terjadi?
Visiting Scholar Seoul National University Asia Center, Nur Aisyah
Kotarumalos PhD, menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya sudah kehilangan “masa
emas” yaitu pada masa persiapan pada bulan Januari dan Februari. Masa emas yang
dimaksud oleh Aisyah adalah masa sosialisasi mengenai apa itu virus corona,
SARS-CoV-2 sebagai penyebab Covid-19, serta bagaimana pencegahannya. Saya
setuju dengan pendapat yang dikemukakan oleh Nur Aisyah, Indonesia memang
kurang dalam melakukan sosialisasi terhadap masyarakatnya, pemerintah tidak
menyadari bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami apa
sebenarnya Pandemi Covid-19 ini. Indonesia menganggap virus ini tidak akan
sampai ke Indonesia. Padahal banyak faktor yang menyebabkan virus ini bisa
menyebar dengan cepat. Seharusnya saat pandemi tersebut telah muncul,
pemerintah seharusnya sudah membatasi akses penerbangan dari luar negeri
ataupun ke luar negeri, karena kita tidak tahu apakah orang yang masuk ke
Indonesia itu bebas dari virus atau tidak. Seharusnya Indonesia melihat contoh
negara – negara yang memiliki strategi yang baik dalam penanganan Covid-19,
seperti Korea Selatan. Saya juga disini tidak menyalahkan sepenuhnya kepada
pemerintah, karena bagaimana pemerintah akan menerapkan sesuatu yang baik jika
masyarakatnya saja tidak menaati aturan pemerintah.
Sejak awal, pemerintah Korea Selatan sudah melakukan transparansi
data. Pemerintah menggunakan data pribadi setiap warga negaranya untuk melacak
atau melakukan tracing terhadap siapa saja yang berkontak dengan pasien postif
Covid-19 dan riwayat perjalanan orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Data
pribadi yang dikelola pemerintah bisa berupa data ponsel, bank, serta kartu
debit yang terkoneksi melalui GPS. Data pribadi tersebut murni hanya digunakan
untuk menangani Covid-19. Pemerintah Korea Selatan juga sudah memberikan
jaminan kepada setiap warga negaranya bahwa data pribadi mereka tidak akan
dibocorkan atau diberikan kepada instansi lainnya. Dalam hal ini, saya kurang
setuju terhadap transparansi data, karena menurut saya hal itu secara tidak
langsung melanggar privasi seseorang. Tes secara masif sudah cukup untuk
mengecek seseorang apakah dia postif corona atau tidak.
Selain tes secara masif dan tracing, pemerintah Korea Selatan juga
melakukan isolasi kepada orang yang sakit, orang yang punya gejala, dan orang
yang beresiko tinggi seperti lansia diatas usia 60 tahun, anak – anak, dan
wanita hamil. Isolasi tersebut bisa dilakukan di rumah masing – masing atau
tempat yang disediakan oleh pemerintah. Sedangkan pasien yang memiliki gejala
parah atau dalam kondisi kritis akan segera ditangani di rumah sakit di ruang isolasi
tekanan negatif. Saya setuju dengan pemberlakuan isolasi, hal tersebut
dimaksudkan agar orang tersebut tidak menyebarkan virus ke orang lain. Dan juga
lansia, anak – anak, dan wanita hamil yang mempunyai resiko tinggi terkena
virus ini, haruslah isolasi mandiri, karena yang saya ketahui adalah bahwa
orang yang rata – rata meninggal karena virus ini adalah orang yang mempunyai
penyakit bawaan, dan kebanyakan lansia sudah mempunyai penyakit sebelumnya,
jadi menurut saya isolasi ini adalah solusi terbaik untuk pencegahan penyebaran
virus ini.
Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara yang angka kasus
bunuh dirinya tinggi. Oleh sebab itu, pemerintah memberikan layanan konseling
gratis kepada masyarakat jika mengalami depresi akibat kondisi yang saat ini
terjadi. “Korea Selatan banyak kasus bunuh diri. Jadi pemerintah juga
memberikan layanan kejiwaan kepada mereka yang mungkin depresi” kata Aisyah.
Saya setuju dengan hal ini, konseling adalah proses bantuan kepada seseorang
agar menyadari kembali akan eksistensinya. Di masa pandemi ini, tidak menutup
kemungkinan banyak orang yang stres, depresi, mentalnya tidak sehat, dan lain
sebagainya. Faktor penyebabnya banyak, misalnya adalah pemerintah yang
mengharuskan masyarakatnya untuk di rumah saja, hal ini bagi sebagian orang
mungkin terasa sangat menyiksa, karena yang biasanya setiap hari mereka
bekerja, sekolah, atau berpergian kemana saja, tiba – tiba aktivitasnya harus
terhenti karena adanya pandemi ini. Hal ini bisa menyebabkan stres, dan
pemerintah juga seharusnya peka terhadap masyarakatnya, salah satunya adalah
dengan mengadakan layanan konseling. Jadi saya sangat setuju terhadap strategi
Korea Selatan yang satu ini.
Kesimpulannya, Korea Selatan sudah menetapkan strategi yang baik.
Dan itu harus dijadikan contoh bagi negara Indonesia dalam menghadapi pandemi
Covid-19 ini. Indonesia tidak boleh lengah dalam menghadapi pandemi ini.
Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi dalam melawan pandemi ini.
PENUTUP
Strategi Korea Selatan sudah tepat dalam menghadapi Virus Corona
ini. Di sini, saya tidak memojokkan negara sendiri, yaitu Negara Republik
Indonesia. Layanan Konseling juga merupakan langkah yang tepat dalam mengatasi
keadaan saat ini, karena tidak menutup kemungkinan banyak orang yang stress
akibat masa yang sulit ini. Tetapi
memang begitu nyatanya, Indonesia seharusnya bisa melihat, mengamati, lalu
mengadopsi strategi negara mana yang paling baik dalam menghadapi pandemi ini.
Di sini juga saya tidak serta merta menyalahkan pemerintahan, tetapi saya juga
mengkritik masyarakat Indonesia dalam menyikapi pandemi ini. Semoga pandemi ini
segera berakhir, agar kita bisa dengan bebas melakukan aktivitas seperti
biasanya.
