Thursday, July 9, 2020

Naskah Polemik oleh Sarah Salsabila (1184010167) dengan judul Layanan Konseling Sebagai Salah Satu Strategi Korea Selatan dalam Menghadapi Pandemi Covid-19


LAYANAN KONSELING SEBAGAI SALAH SATU STRATEGI KOREA SELATAN
 DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19
POLEMIK
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kaifiyat Mujadalah
Dosen Pengampu : - Dr. H. Aep Kusnawan, M.Ag.
                                      -Yuyun Yuningsih, S.Sos.I., M.Ag.




Oleh
Sarah Salsabila
1184010167


JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2020
PENDAHULUAN

Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-Co-V-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona ini bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru – paru yang berat, hingga kematian. SARS-Co-V-2 atau yang lebih dikenal dengan nama Virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, seperti lansia, orang dewasa, anak – anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Infeksi Virus Corona pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia hanya dalam waktu beberapa bulan. Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan kebijakan lockdown dalam rangka mencegah penyebaran Virus Corona. Di Indonesia sendiri, diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.
Virus Corona bisa menyerang siapa saja. Menurut data yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Republik Indonesia, jumlah kasus terkonfirmasi positif hingga 29 Juni 2020 adalah 54.010 orang, dengan jumlah kematian 2.754 orang. Tingkat kematian akibat virus ini adalah sekitar 5,1%. Jika dilihat dari persentase angka kematian yang dibagi menurut golongan usia, maka lansia memiliki persentase tingkat kematian yang lebih tinggi dibanding golongan usia lainnya.
Virus Corona ini menyerang semua negara di dunia, termasuk Korea Selatan. Duta besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang Beom memaparkan sejumlah strategi Korea Selatan dalam menghadapi lonjakan kasus Covid-19 tanpa menerapkan kebijakan lockdown atau karantina menyeluruh di negara tersebut. Dia menjelaskan bahwa upaya – upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Korea Selatan dapat disimpulkan dalam empat poin penting. Pertama, adalah langkah tes yang agresif yang disebut sebagai inti dari upaya melawan Covid-19. Guna mempercepat tes tersebut, Korea Selatan menciptakan metode yang aman, cepat, dan nyaman, yakni melalui tes drive-through. Yakni dimana masyarakat tak perlu turun dari kendaraan masing – masing untuk bisa di tes. Proses dapat dilakukan di bawah sepuluh menit dengan cara yang aman juga bagi para pekerja medis. Kedua, adalah pelacakan (tracing), upaya tracing dilakukan dengan menggunakan jejak rekam transaksi kartu kredit, rekaman kamera CCTV, rekan jejak aplikasi telepon genggam, hingga rekam jejak GPS mobil dari mereka yang dikonfirmasi positif terjangkit Virus Corona. Ketiga, adalah perawatan pasien positif Covid-19. Pasien juga dibagi ke dalam empat kategori, yaitu ringan, sedang, berat, dan sangat berat sesuai dengan gejala yang ditunjukkan. Keempat, adalah kesadaran dan partisipasi sipil. Transparansi pemerintah memiliki pengaruh besar terhadap kepercayaan masyarakat.
Korea Selatan juga memberikan layanan konseling gratis kepada masyarakat jika mengalami depresi akibat kondisi yang saat ini terjadi. Korea selatan juga dikenal sebagai salah satu negara yang angka kasus bunuh dirinya tinggi, jadi layanan konseling sangat di perlukan di negara tersebut. Bahkan bukan hanya di Korea Selatan saja, layanan konseling juga diperlukan di semua negara, karena hal ini dikhawatirkan bisa menyebabkan depresi atau stres bagi orang yang bersangkutan.

PEMBAHASAN

(Tanggapan terhadap tulisan Ellyvon Pranita)
Oleh : Sarah Salsabila
Kompas.com

Korea Selatan termasuk negara yang memiliki strategi yang baik dalam penanganan pandemi Covid-19. Sejak awal, pemerintahnya sudah mengambil strategi komunikasi dua arah. Yang pertama adalah menyebutkan bahwa virus corona ini adalah penyakit yang berbahaya. Yang kedua adalah pemerintah menenangkan masyarakatnya dengan optimis bisa mencegah penyakit ini agar tidak membahayakan bagi warganya. Hal ini berbeda dengan negara kita yaitu negara Indonesia. Pemerintah Indonesia menganggap virus corona tidak perlu dikhawatirkan dan sama saja seperti virus penyebab flu pada umunya, hal itu dilakukan agar membuat masyarakat tenang. Namun, apa yang terjadi?
Visiting Scholar Seoul National University Asia Center, Nur Aisyah Kotarumalos PhD, menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya sudah kehilangan “masa emas” yaitu pada masa persiapan pada bulan Januari dan Februari. Masa emas yang dimaksud oleh Aisyah adalah masa sosialisasi mengenai apa itu virus corona, SARS-CoV-2 sebagai penyebab Covid-19, serta bagaimana pencegahannya. Saya setuju dengan pendapat yang dikemukakan oleh Nur Aisyah, Indonesia memang kurang dalam melakukan sosialisasi terhadap masyarakatnya, pemerintah tidak menyadari bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami apa sebenarnya Pandemi Covid-19 ini. Indonesia menganggap virus ini tidak akan sampai ke Indonesia. Padahal banyak faktor yang menyebabkan virus ini bisa menyebar dengan cepat. Seharusnya saat pandemi tersebut telah muncul, pemerintah seharusnya sudah membatasi akses penerbangan dari luar negeri ataupun ke luar negeri, karena kita tidak tahu apakah orang yang masuk ke Indonesia itu bebas dari virus atau tidak. Seharusnya Indonesia melihat contoh negara – negara yang memiliki strategi yang baik dalam penanganan Covid-19, seperti Korea Selatan. Saya juga disini tidak menyalahkan sepenuhnya kepada pemerintah, karena bagaimana pemerintah akan menerapkan sesuatu yang baik jika masyarakatnya saja tidak menaati aturan pemerintah.
Sejak awal, pemerintah Korea Selatan sudah melakukan transparansi data. Pemerintah menggunakan data pribadi setiap warga negaranya untuk melacak atau melakukan tracing terhadap siapa saja yang berkontak dengan pasien postif Covid-19 dan riwayat perjalanan orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Data pribadi yang dikelola pemerintah bisa berupa data ponsel, bank, serta kartu debit yang terkoneksi melalui GPS. Data pribadi tersebut murni hanya digunakan untuk menangani Covid-19. Pemerintah Korea Selatan juga sudah memberikan jaminan kepada setiap warga negaranya bahwa data pribadi mereka tidak akan dibocorkan atau diberikan kepada instansi lainnya. Dalam hal ini, saya kurang setuju terhadap transparansi data, karena menurut saya hal itu secara tidak langsung melanggar privasi seseorang. Tes secara masif sudah cukup untuk mengecek seseorang apakah dia postif corona atau tidak.
Selain tes secara masif dan tracing, pemerintah Korea Selatan juga melakukan isolasi kepada orang yang sakit, orang yang punya gejala, dan orang yang beresiko tinggi seperti lansia diatas usia 60 tahun, anak – anak, dan wanita hamil. Isolasi tersebut bisa dilakukan di rumah masing – masing atau tempat yang disediakan oleh pemerintah. Sedangkan pasien yang memiliki gejala parah atau dalam kondisi kritis akan segera ditangani di rumah sakit di ruang isolasi tekanan negatif. Saya setuju dengan pemberlakuan isolasi, hal tersebut dimaksudkan agar orang tersebut tidak menyebarkan virus ke orang lain. Dan juga lansia, anak – anak, dan wanita hamil yang mempunyai resiko tinggi terkena virus ini, haruslah isolasi mandiri, karena yang saya ketahui adalah bahwa orang yang rata – rata meninggal karena virus ini adalah orang yang mempunyai penyakit bawaan, dan kebanyakan lansia sudah mempunyai penyakit sebelumnya, jadi menurut saya isolasi ini adalah solusi terbaik untuk pencegahan penyebaran virus ini.
Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara yang angka kasus bunuh dirinya tinggi. Oleh sebab itu, pemerintah memberikan layanan konseling gratis kepada masyarakat jika mengalami depresi akibat kondisi yang saat ini terjadi. “Korea Selatan banyak kasus bunuh diri. Jadi pemerintah juga memberikan layanan kejiwaan kepada mereka yang mungkin depresi” kata Aisyah. Saya setuju dengan hal ini, konseling adalah proses bantuan kepada seseorang agar menyadari kembali akan eksistensinya. Di masa pandemi ini, tidak menutup kemungkinan banyak orang yang stres, depresi, mentalnya tidak sehat, dan lain sebagainya. Faktor penyebabnya banyak, misalnya adalah pemerintah yang mengharuskan masyarakatnya untuk di rumah saja, hal ini bagi sebagian orang mungkin terasa sangat menyiksa, karena yang biasanya setiap hari mereka bekerja, sekolah, atau berpergian kemana saja, tiba – tiba aktivitasnya harus terhenti karena adanya pandemi ini. Hal ini bisa menyebabkan stres, dan pemerintah juga seharusnya peka terhadap masyarakatnya, salah satunya adalah dengan mengadakan layanan konseling. Jadi saya sangat setuju terhadap strategi Korea Selatan yang satu ini.
Kesimpulannya, Korea Selatan sudah menetapkan strategi yang baik. Dan itu harus dijadikan contoh bagi negara Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Indonesia tidak boleh lengah dalam menghadapi pandemi ini. Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi dalam melawan pandemi ini.

PENUTUP

Strategi Korea Selatan sudah tepat dalam menghadapi Virus Corona ini. Di sini, saya tidak memojokkan negara sendiri, yaitu Negara Republik Indonesia. Layanan Konseling juga merupakan langkah yang tepat dalam mengatasi keadaan saat ini, karena tidak menutup kemungkinan banyak orang yang stress akibat masa yang sulit ini.  Tetapi memang begitu nyatanya, Indonesia seharusnya bisa melihat, mengamati, lalu mengadopsi strategi negara mana yang paling baik dalam menghadapi pandemi ini. Di sini juga saya tidak serta merta menyalahkan pemerintahan, tetapi saya juga mengkritik masyarakat Indonesia dalam menyikapi pandemi ini. Semoga pandemi ini segera berakhir, agar kita bisa dengan bebas melakukan aktivitas seperti biasanya.